Senin, 28 Januari 2013

robot termahal di dunia


Titan : Robot termahal di Dunia

Titan adalah sebuah robot termahal di dunia seharga 7 Miliar dan diperuntukkan hanya untuk disewa untuk menggelar pertunjukan hiburan  robot di berbagai tempat seperti di mall atau taman hiburan. Disini Titan akan menampilkan berbagai pertunjukan seperti berjalan, menyapa pengunjung, bercanda, bernyanyi dan bergerak kesana-kemari.

Robot termahal di dunia ini diciptakan oleh Cyberstein Robots Ltd pada tahun 2004. Robot Titan memiliki tinggi sekitar 2,4 meter dengan berat 60 kg dan berat totalnya adalah 350 kg apabila digabungkan dengan peralatan kursi roda yang sering dipakainya.

Robot termahal di dunia ini didesain oleh Nik Fielding. Robot Titan sudah tampil dalam banyak acara seperti Commonwealth Games, Alton Tower, Bar Mitzvahs serta mal-mal di dunia. Selain itu Titan juga banyak tampil di berbagai saluran TV.

Menurut info, untuk menyewa Titan selama sehari, penyewa harus mengeluarkan sekitar 150 juta sehari. Pengen lihat bagaimana penampilan robot termahal di dunia ini.

Sumber : Wikipedia.com
AS, Inggris Tutup Sementara Kedutaan di Kairo
Kota Port Said masih tegang setelah pengadilan menjatuhkan hukuman mati kepada 21 orang.
TERKAIT:
Amerika Serikat dan Inggris menutup sementara kedutaan-kedutaan mereka di ibukota Mesir, Kairo karena kerusuhan yang melanda Mesir.

Kantor berita Mesir MENA melaporkan Kedutaan Besar Inggris ditutup sementara karena "pergolakan yang sedang terjadi" yang telah mencapai daerah di sekitar lingkungan kedutaan.

Kedutaan Amerika Serikat juga menempuh langkah yang sama. Selain Inggris dan Amerika, negara-negara yang telah menutup sementara kedutaan di Kairo adalah Kanada dan Belgia.

Kekerasan masih berlangsung di beberapa wilayah Mesir. Satu orang tewas dan 400 orang mengalami luka-luka di kota Port Said pada Minggu (27/01) ketika aparat keamanan bentrok dengan massa yang mengikuti pemakaman massal warga yang Klik tewas sehari sebelumnya.

Polisi menembakkan gas air mata ke ribuan warga yang berkumpul. Banyak di antara mereka masih marah atas vonis pengadilan yang menjatuhkan hukuman mati kepada 21 terdakwa atas peran mereka dalam kekerasan fatal di pertandingan sepak bola di Port Said tahun lalu.

Sementara itu bentrokan antara aparat keamanan dan pengunjuk rasa juga masih berlanjut di dekat Lapangan Tahrir, Kairo. Pemrotes menuduh Presiden Mohammed Morsi mengkhianati revolusi, tetapi presiden telah membantah tudingan itu.
 
Sumber :


Enam belas orang tewas dalam kerusuhan yang pecah di Port Said, Mesir, Sabtu (26/1/2013), pascavonis mati yang dijatuhkan pada 21 terdakwa kasus kerusuhan suporter sepakbola yang menewaskan 74 orang pada Februari 2012.

"Jumlah korban jiwa mencapai 16 orang dan 176 orang lainnya terluka," kata Helmi al-Ifni, kepala dinas kesehatan kantor gubernur setempat.

Dua di antara yang tewas adalah personel kepolisian, kata kementerian dalam negeri dalam pernyataan terpisah. Kementerian itu menambahkan, "banyak korban yang kritis adalah polisi."

Kerusuhan itu pecah setelah pengadilan di Kairo menjatuhkan hukuman mati pada 21 orang dalam salah satu kerusuhan sepak bola terburuk di dunia. Vonis itu memicu upaya pembobolan penjara dan kerusuhan di Port Said, kota asal sebagian besar terdakwa.

Para suporter fanatik dari kedua tim, yang lebih dikenal dengan sebutan Ultras, menuduh polisi juga bertanggung jawab atas jatuhnya korban jiwa di Port Said. Mereka juga mengkritik Presiden Mohamed Mursi tidak mereformasi kepolisian.

Secara khusus suporter fanatik Al-Ahly berada di garis depan dalam demonstrasi tersebut. Namun kemarahan mendidih terjadi di Port Said, di mana warganya merasa dijadikan kambing hitam dalam kerusuhan sepak bola itu.

Bentrok pada 1 Februari 2012 itu terjadi antara suporter fanatik (Ultras) kesebelasan Al-Masry (Port Said) dengan Ultras dari Al-Ahly (Kairo) di Port Said. Tujuh puluh empat suporter Al-Ahly tewas dalam peristiwa itu. Peristiwa itu terjadi ketika fans al-Masry menyerbu lapangan, melempar batu dan kembang api kepada pengunjung. Saat itu, pasukan keamanan disebutkan hanya melakukan sedikit upaya untuk mencegah kerusuhan.

Tak lama setelah vonis dijatuhkan, dua polisi ditembak mati di luar gedung penjara utama Port Said ketika kerabat para terdakwa yang marah menyerbu bangunan itu untuk membebaskan para terdakwa.

Polisi kemudian menembakkan gas airmata, peluru karet dan peluru tajam, ke arah kerumunan massa di depan penjara. Enam orang tewas dalam peristiwa itu, kata pejabat keamanan, yang meminta identitasnya tidak disebutkan karena bukan pihak yang berwenang mengatakan hal itu.

Pejabat keamanan mengatakan, aparat militer telah dikerahkan ke Port Said. Ini merupakan pengerahan pasukan kedua dalam waktu kurang dari 24 jam.

Kuasa hukum para terdakwa mengatakan, semua yang divonis mati adalah pendukung klub Al-Masry.

Sementara itu, hakim Sobhi Abdel-Maquid, dalam pernyataan yang disiarkan secara langsung oleh televisi pemerintah, mengatakan dia akan mengumumkan vonis untuk 52 terdakwa lainnya pada 9 Maret mendatang.

Di antara orang yang diadili dalam kasus itu adalah enam petugas keamanan. Namun tidak satupun dari mereka yang divonis hari ini, kata para pengacara dan pejabat keamanan.

Para pendukung Al-Ahly "menjanjikan" lebih banyak kekerasan jika para terdakwa tidak dijatuhi hukuman mati. Beberapa hari menjelang vonis dijatuhkan, mereka memperingatkan akan terjadi pertumpahan darah dan "pembalasan". Ratusan fans Al-Ahly berkumpul di gelanggang olahraga Kairo sambil menyerukan kecaman terhadap pemerintah dan kepolisian.

Sebelum hakim membacakan ke-21 nama terdakwa, keluarga korban berseru "Allahu Akbar" sambil mengacungkan tangan dan mengangkat foto-foto korban. Hakim memukul palunya beberapa kali untuk menenangkan massa di ruang sidang.

"Sekarang saya ingin melihat sendiri orang-orang itu dieksekusi, seperti mereka melihat terbunuhnya anak saya," kata Nour al-Sabah, yang kehilangan putranya, Ahmed Zakaria, dalam kerusuhan sepak bola itu.

Vonis itu diperkirakan tidak akan meredakan ketegangan antara pendukung fanatik dua tim yang bersaing sejak dulu itu. Sementara itu hakim akan mengungkapkan pada publik alasan vonis mati itu pada 9 Maret, bersamaan dengan pembacaan vonis 52 terdakwa lainnya.

Seorang warga Port Said yang sekaligus pengacara salah seorang terpidana mati mengatakan, vonis itu tidak lebih dari "keputusan politik untuk menenangkan masyarakat."

"Situasi kami di Port Said sangat serius karena anak-anak diambil dari rumah mereka karena mengenakan kaos hijau," kata Mohammed al-Daw, merujuk pada warga tim Al-Masry.
Sumber :
AP, AFP

Tidak ada komentar:

Posting Komentar